Langsung ke konten utama

A Home Team, Keluarga di Pertemuan Pertama


A Home team, rasanya sudah lama mendengar title ini. Beberapa kali founder Ibu profesional membahas tentang A Home team. Idealnya sebuah keluarga adalah sebuah team. Bahkan team dengan kualitas A. Pertanyaannya seperti apa keluarga dengan kualitas A itu? Bagaimana cara membentuk keluarga dengan kualitas A? Pertanyaan ini yang selalu berulang menggema di pikiran. Hingga saya bergabung di tim nasional dan bertemu dengan Mbak Ratna Palupi.

Saya sering mendapatkan informasi seputar A Home Team. Sebuah program inovasi yang ada pada Ibu Profesional. Tapi informasi itu semakin membuat penasaran. Ketika bertemu dengan Mbak Ratna di Konferensi Perempuan Indonesia di Batu––Malang pada Februari lalu dan ngobrol sedikit tentang A Home Team, semakin menarik untuk mengetahui seperti apa program inovasi yang satu ini. Pas banget saat itu Mbak Ratna bilang bahwa A Home Team membuka kelas.

Saat yang ditunggu pun tiba. Begitu ada pendaftaran recruitment A Home Team, meski saat itu saya sedang keliling beberapa kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jogjakarta tak menghalangi saya untuk segera mendaftar. Alhamdulillah, pertemuan pertama bisa saya ikuti setelah sampai di Samarinda.

Ada dua pilihan saat itu, sebagai member A Home Team atau fasilitator. Awalnya ragu mau gabung di fasilitator, eh malah diangkut di wag fasilitator. Ya sudah, kesempatan sudah dibuka, tinggal bersungguh-sungguh mengikuti setiap sesi permainannya. 

Pada pertemuan pertama kali ini dengan fasil Mbak Dwi Puji Lestari peserta melakukan saling kenal. Setelah bertegur sapa, saling beramah ramah dan menguatkan niat atau strong way mengikuti A Home Team kami langsung masuk break out room.

Bukti Kesungguhan

Komitmen diri pada kelas kali ini berupa:
  1. Kalender hari Selasa, mengapa karena di hari Selasa akan ada kelas calon fasil A Home Team. Jadi di kepala sudah tergambar kalender hari Selasa, biar tidak lupa pada agenda tiap hari selasa diwarnai dengan warna pink... Kok pink, iyalah seperti orang yang lagi jatuh cinta. Ciyeee! 
  2. Flip chart, flip chart adalah gambaran ilmu, permainan, yang didapatkan dari pelatihan ini serta tugas-tugas yang harus dikerjakan. 
  3. Gadget, gambaran sarana yang digunakan untuk bermain pada kesempatan kali ini karena kegiatan ini diselenggarakan secara online. 

Nice Homework Pertama

Kenangan Indah pada Selasa Malam

Yang menarik pada pertemuan pertema ini adalah cara mainnya. Tadinya karena capek sepulang dari Jawa, tahu-tahu sudah Selasa malam saja. Dengan malas saya membuka zoom, sambil rebahan maksudnya. Eh ternyata dibuka dengan cukup interaktif oleh mBak Dwi, langsung pakai kerudung dong dan on camera. Jadi semangat! Apalagi sesi kenalan pada breakout room. Jadi kenal lebih dekat, Teman-teman yang sebelumnya baru kenal nama doang. 

Kenal dengan siapa saja? 

Banyak, begitu lihat wag ternyata sebagaian besar sudah kenal, meski beberapa hanya sempat interaksi secara online. Dan menariknya, ada yang sudah ketemu langsung waktu KPI. Ada Mesa,  Rahma Amelia, Rifina Arlin yang sering berinteraksi online dan member KLIP juga. Ada Teh Ricca, Mbak Yani, Teh Chika yang sudah ketemu langsung waktu KPI. Ada juga teman satu kelompok di Hexagon City kelas Bunda Produktif kemarin Mbak Ita Rohaita. 

Namun, sesi kenal lebih dekat Selasa kemarin saya ngobrol intens dengan Teh Chika, Mba Nova, dan Ai. Sedangkan pada breakout room, saya ngobrol tentang keluarga dengan Mbak Rahma Amelia. Seneng banget, bisa ngobrol langsung lho... Biasanya hanya chat di grup atau japri tanya tentang setoran KLIP. 

Oleh-oleh buat keluarga

Cara mengenal lebih dalam dengan keluarga. Barangkali selama ini merasa mengenal dengan baik keluarga, tapi belum tentu. Nah disini jadi dapat insight baru tentang bagaimana mengenal orang lain, mengenal keluarga, dan seperti apa keluarga itu. Siapa saja yang kita anggap keluarga, ikatan seperti apa dalam keluarga. 

Ada pertanyaan? 

Pastinya dong, banyak. Dari pertemuan pertama ini saya semakin bertanya-tanya sudahkah saya mengenal apa yang saya anggap keluarga. Bahkan dengan keluarga terdekat. Sebatas mana mengenal itu ? Dan sampai berapa lama kita bisa dikatakan mengenal? Waktu yang dibutuhkan dan indikator apa saja? 

Akhirnya pada Pertemuan Ini

Sedikit yang bisa saya raba, dan rasakan adalah bahwa kita sebagai calon fasilitator harus punya kemampuan untuk  menghadirkan kelas A Home Team yang interaktif dan menarik baik secara online maupun offline. Gunakan kearifan lokal untuk membuat kelas-kelas A Home Team menarik, menyenangkan, dan memberi kedalaman makna. A Home Team harus bisa hadir, berbagi agar semakin banyak keluarga yang menyadari bahwa mereka bukan tinggal bersama-sama tapi sebuah team yang tangguh. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnal Refleksi Pekan Ketiga

   Pada pertemuan ketiga workshop fasilitator A Home Team kali ini semakin seru saja. Sesuai komitmen yang sudah saya buat pada awal pertemuan, bahwa hari Selasa malam adalah waktu khusus untuk hadir pada zooming A Home Team fasil.Kali ini saya bisa hadir tepat 5 menit sebelum acara dimulai. Yeiii kemajuan! Apa yang menarik pada pertemuan kali ini? Tentu saja permainannya. Saya semakin antusias mengikuti permainan pada sesi kali ini. Diawali dengan check-in yang seru, tentang hal-hal yang mengganggu dan ingin diubah selama ini. Wah surprise, dapat giliran setelah Mbak Mesa. Hmmmm, hal yang ingin ku ubah adalah sifat menunda-nunda. Seperti ini nih, menulis jurnal di akhir waktu menjelang deadline. Namun, bagian ini sudah dijawab oleh Mbak Mesa, jadi saya ambil hal yang mengganggu adalah susahnya bersikap asertif atau menolak. Cocok kan, dua hal yang menjadi hambatan terbesar adalah suka menunda dan tidak bisa menolak. Akibatnya, ya… . Begini deh! Selain check-in, peserta juga m...

Master Mind and False Celebration Rubi Digi

Di ujung tapi bukan akhir dari segalanya karena tim ini bertekad untuk tetap ada meski masalah pribadi sudah menemukan solusi. Harapannya tim kami bisa memberi manfaat kepada masyarakat luas dan usai kelas Bunda Saliha ini kami siap masuk ekosistem.  Nah di ujung kelas Bunda Saliha, meski protokoler sudah dinyatakan lulus dan melakukan selebrasi pada puncak satu dekade Ibu Profesional di akhir Konferensi Ibu Pembaharuan ( KIP) tanggal 22 Desember lalu, sejatinya tak ada istilah usai dalam perjuangan tim kami, agar tetap menjadi bagian dari ekosistem ibu pembaharu. Pada kesempatan kali ini, kami akan melakukan selebrasi yang sebenarnya, sebuah koreksi atau evaluasi atas perjalanan kami sebagai anggota sebuah tim maupun kinerja tim itu sendiri. Bisa jadi ini adalah false celebration , namun ini menjadi momen penting agar kami bisa lebih baik lagi kedepannya.  Master Mind and False Celebration : Self Assessment Self assessment, merupakan evaluasi yang dilakukan oleh member tim un...