Langsung ke konten utama

Postingan

Mengenal Rasa

Komunikasi Produktif : Mengenali Rasa Akhir pekan yang semarak, anak-anak datang dari asrama untuk libur dua pekanan. Biasanya rumah akan riuh, anak-anak yang berceloteh ini itu , juga aneka perizinan mulai dari izin nonton, izin main game, izin mau mandi bahkan izin ketika hendak makan. Bertanya ini itu dan ditimpali omelan Bunda yang panjang pendek. Inilah rumah  Rumah yang ada anak-anaknya. Hidup dan penuh kesyukuran. Betapa banyak keluarga yang justru merindukan suasana seperti ini.  Baru 3 orang belum lagi kalau ke 7 nya berkumpul di rumah. Lebih ramai lagi tapi membahagiakan. Selepas maghrib, si mbak bercerita panjang lebar. Ini kesempatan langka, karena satu gadis ini sangat istimewa, kelemahan bahasa lisannya membuatnya jarang berbicara, sensitif dan sering berburuk sangka. Dengannya, masalah komunikasi paling sering terjadi. Salah pengertian, sikap tubuh yang tak layak, keluhan dan gerutuan sering menghiasi pembicaraan diantara kami. Kalau...

Sepatu dan Celana

Komunikasi Produktif : Menjaga Komitmen Hari ini blank, sampai sore ini belum ada ide menulis apapun. Pertama, karena kami tinggal berdua saja di rumah, dan selama ini praktek komunikasi berpusat pada si Bungsu. Kedua, setelah kemarin seharian beraktifitas dan sore menjelang malam hari baru masuk rumah, otomatis waktu bersama anak hanya tersisa sedikit di penghujung hari. Itupun di warnai dengan ngambeknya si Bungsu. Baiklah, menuliskan ngambeknya si Bungsu saja karena masih terkait dengan komunikasi produktif juga. Sudah menjadi kesepakatan kami bahwa Adik ke kamar mandi sendiri , tanpa meminta diantar lagi. Begitupun tidur malam hari tanpa Bunda lagi, setelah 10 hari nanti, proposal pengajuan pembelian sepatu akan kami penuhi. Meski belum berjalan mulus, tapi kesungguhannya patut kami apresiasi. Juga kesediaan kembali ke titik 0 jika melanggar kesepakatan meski satu malam saja. Beberapa hari sebelum Abinya dinas, masih meminta ditemani Abi. "Kan sama Abi...

Meminta Maaf

Komunikasi Produktif : Meminta Maaf Malam ini kami hanya berdua : Bunda dan Anak bungsunya karena Abi sedang dinas ke kantor pusat. Setelah seharian beraktifitas, Bunda mengajar dan anak sekolah meski tidak penuh seperti biasa karena keinginannya mengantar Abi ke bandara. Malam ini , Bunda ingin merefleksikan pengasuhan Bunda pada anak. Kebetulan ada undangan parenting dari sekolah untuk Sabtu nanti. Sambil mengangsurkan undangan itu dia bertanya. "Bun, parenting itu apa sih?"  "Kegiatan mengasuh dan mendidik anak," jawab Bunda sesederhana mungkin agar dimengerti anak. "Seperti Bunda sama aku gitu ya?" "Bener banget, jawab Bunda sambil menatap matanya dan memberi senyum semanis mungkin. Lalu berpikir dan merefleksikan pengasuhan yang telah berlalu, Bunda jadi sadar banget kalau ternyata masih banyak kesalahan, tidak sabaran menghadapinya, sering marah dan cara berkomunikasi yang jauh dari komunikasi produktif. Meminta ma...

Kan Kuantar Abi ke Bandara

Komunikasi Produktif Sebelum Abinya dinas keluar kota, biasanya sudah sounding ke anak terlebih dahulu. Apalagi akan ada pengalihan tugas pagi : membangunkan , membawa ke masjid untuk sholat subuh dan mengantar sekolah. Tentunya akan ada sedikit perbedaan, antara suara Abi yang jelas dan tegas dengan suara bunda yang melengking. Tak salah jika ada idiom : perempuan jangan memberi perintah karena akan sakit terdengar ditelinga. Makanya sebaik-baik pemimpin adalah laki-laki. Untuk itu, kita belajar komunikasi produktif ya, karena perempuan juga punya potensi kelembutan. Di sini kita bisa belajar mengubah kata perintah menjadi ajakan. Melatih bahasa tubuh dan membangun komunikasi yang positif dengan suami dan anak. Hari ini, Abinya akan dinas ke Jakarta. Dan pagi yang indah akan tanpa kesan jika tidak ada kehebohan...aih...ini kalimat penghibur diri. Setelah semua lancar, dari bangun hingga sholat subuh dan mandi pagi. Giliran tiba waktu sarapan. Dengan gerakan lamb...

Mau Sama Bunda

Komunikasi Produktif : Ketika Kenyataan Tak Seperti Yang  Diharapkan Menghadapi anak bungsu memang rada berbeda ya, apalagi ketika kakak-kakaknya sudah pada besar dan tak tinggal serumah lagi. Dia menjadi tumpuhan kasih sayang. Ada dikotomi perasaan, antara tumbuhlah menjadi besar dan dewasa dengan perasaan, kok cepat banget sih gedenya...jadi kangen bayi lagi, jadi kangen balita lagi. Tak sadar kadang terbawa pada perlakuan kita ke anak. Yang kami alami, si bungsu masih belum bisa tidur sendiri , masih ingin tidur bersama Bundanya, meski sudah 7 tahun usianya. Bukan tanpa upaya sejak usia 5 tahun kami sudah berusaha memisahkan tempat tidur hanya saja masih minta ditemani Bunda sampai saat ini. Seperti malam tadi, sebelumnya kami memberi tantangan untuk tidur sendiri tanpa ditemani dan ke kamar mandi sendiri pada malam hari untuk bak dan gosok gigi sebelum tidur. Kesepakatan ini kami buat dua malam sebelumnya ketika si anak meminta sepatu, yah sejak masuk sekol...

Makan Malam Yang Senyap

Komunikasi Produktif Kemarin setelah perjalanan lumayan jauh mengunjungi anak gadis di pesantrennya yang terletak di luar kota, Bunda langsung tergeletak lemes. Terbangun ketika Abi dan anaknya hendak pergi ke masjid sholat Maghrib. Seperti biasa, sepulang dari mana saja si bungsu langsung memeluk Bundanya. Tercium bau asem yang menguar. "Adek sudah mandi?" Bunda mencoba menghindari mengunakan kata berkonotasi negatif seperti tidak atau belum. "Eee....belum Bun," jawabnya sambil tersenyum. "Ayo mandi.." "Sebentar......." "Selesai Bunda sholat sunnah, adik sudah di kamar mandi ya." Sampai Bunda selesai sholat sunnah, si anak masih gegoleran di lantai. "Ayo mandi.." "Mandiin Bu..!" "Adik bisa mandi sendiri." "Anterin...!" Baiklah, kali ini diantar sampai depan kamar mandi. "Lepasin bajunya.." "Adik bisa lepas baju sendiri." Setelah mandi, kembali si anak mem...

Seni Mendengarkan

 Komunikasi Produktif : Mendengarkan Hari ini saatnya kunjungan anak yang di pesantren. Pas juga ada pertemuan wali santri membahas masalah UNBK. Harus Bundanya, karena anak putri maka yang harus datang wali santri putri. Disebabkan baru sembuh dari sakit, tak berani bermotor ria, maka angkot jadi pilihan. Perjalanan yang menyenangkan ke arah luar kota Balikpapan yang masih menghijau. Sesampainya di tempat disambut putri manisku si nomor 4, dengan sumringah. Maklum meski tinggal sekota, anak ini yang paling jarang berinteraksi dengan kami. Peraturan pesantren yang hanya boleh dikunjungi satu bulan sekali dan pulang ke rumah hanya pada saat libur lebaran saja, membuat interasi langsung menjadi hal yang berharga seperti saat kunjungan kali ini. Selesai rapat, kami langsung ngobrol tentang banyak hal, sambil menunggu Abinya yang akan menyusul setelah acara liqo jama'i yang rutin diadakan di sekolah kami dan undangan syukuran rumah tahfidz kami yang baru jadi. "Bun,...